Gambaran Sistem keamanan bank di indonesia

Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat penukaran uang. Sedangkan menurut undang-undang perbankan. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Kasus kriminal di dunia perbankan kembali mengemuka. Pada Selasa (29/3), Polda Metro Jaya mengumumkan telah membekuk komplotan pelaku pembobol bank milik negara. Sebanyak 10 tersangka dijebloskan ke sel, seorang di antaranya Wakil Kepala Cabang Bank BNI Margonda, Simprug, Jaksel.
Tak tanggung-tanggung, polisi berhasil mengungkap transaksi kejahatan perbankan hingga ratusan miliar. Sebuah angka yang cukup fantastis. Kasus itu jelas membuat resah masyarakat, terutama para nasabah.
Betapa tidak, saat ini pemerintah sedang gencar menggelar gerakan menabung. Sementara untuk mendongkrak jumlah nasabah, hampir semua bank menawarkan hadiah fantastis. Dengan tawaran hadiah yang fantastis, jelas nasabah akan terpancing untuk menitipkan uangnya di bank. Mereka mengumpulkan rupiah demi rupiah di bank kepercayaannya, meski dengan imbalan bunga yang tak seberapa.
Tapi celakanya, uang mereka dijarah oleh sindikat yang hampir selalu melibatkan orang dalam bank. Tentu kita masih ingat dengan kasus Bank Century yang hingga kini tidak jelas penanganan hukumnya. Bahkan sudah mulai kabur pengusutannya. Puluhan nasabah bank itu stres gara-gara miliaran rupiah uang mereka hilang tak berbekas. Berbagai upaya dilakukan demi kembalinya uang mereka, tapi tetap sia-sia. Triliunan uang negara yang dipakai untuk menyelamatkan bank itu juga tak jelas ujung pangkalnya.
Sistem perbankan sebenarnya sudah cukup kuat untuk mencegah terjadinya pembobolan oleh kalangan internal bank. Tapi, faktanya, memang tidak bisa menjamin 100 persen. Beberapa kasus pembobolan bank disebabkan lemahnya pengawasan perbankan.  Sebenarnya, data perbankan menunjukkan kejahatan perbankan melalui saluran elektronik mencapai 60 persen dan sisanya didominasi kejahatan pada pembobolan, pemalsuan deposito, transaksi fiktif, cek palsu, vandalisme, atau merusak mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
Bank sebagai lembaga keuangan memang memiliki kemampuan untuk mendistribusikan dana dari masyarakat ke berbagai jenis aset, seperti kredit dan investasi pada aset-aset keuangan di pasar keuangan (saham, komoditas, dan valas). Secara ideal, seharusnya bank memiliki proporsi investasi kredit lebih besar dibandingkan dengan investasi pada pasar keuangan.
Namun, fenomena yang terjadi saat ini, bank lebih agresif melakukan penetrasi di pasar keuangan dibandingkan dengan yang lain. Kita berharap pihak perbankan untuk terus memperbaiki diri dalam menjaga keamanan dana nasabah. Dengan kejadian pembobolan ini, memperlihatkan bahwa unsur kehati-hatian dan ketaatan pada prosedur yang selama ini selalu dijadikan acuan perbankan, khususnya asing, tidaklah sehebat seperti yang digembar-gemborkan selama ini.

Sekarang ini menyimpan uang di bank tidak hanya menimbulkan rasa aman, tetapi juga rasa khawatir dan waspada akan terjadinya hal – hal diatas. mengapa demikian? karena satu alasan, masyarakat butuh tempat untuk menyimpan uang dalam jumlah besar. tetapi karena alasan lainnya, mereka juga jadi khawatir dan waspada karena terjadinya kasus – kasus pembobolan keamanan.

Reff:      http://iqbal1991.wordpress.com/2012/03/30/sistem-keamanan-bank/
http://abyhape.blogspot.com/2012/03/sistem-keamanan-bank-di-indonesia.html